adidas nmd r1 tonal pack restock europe adidas nmd r1 tonal pack restock europe adidas nmd r1 primeknit japan boost s81849 adidas nmd grey camo adidas nmd r1 glitch camo core black now available adidas nmd xr1 og adidas nmd xr1 og black red blue preview on foot adidas nmd xr1 og release date adidas nmd xr1 og release date adidas nmd xr1 black red adidas nmd xr1 europe release adidas nmd xr1 bred black red adidas nmd r1 tonal pack returning retailers later month adidas nmd r1 primeknit french beige restocking friday adidas nmd r1 primeknit french beige restock adidas nmd r1 primeknit french beige restocking friday adidas nmd r1 primeknit french beige adidas nmd r1 primeknit shock pink bb2363 adidas nmd r1 primeknit shock pink release date adidas wmns nmd r1 shock pink

Keutamaan Puasa Asyura

(sodikmudjahid.com) – Hari ini adalah Kamis tanggal 8 Muharram 1434 H. Besok adalah Jum’at tanggal 9 Muharram 1434 H. Lusa adalah Sabtu tanggal 10 Muharram 1434 H. Tiga hari ini adalah hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah.

Hari Kamis disunahkan berpuasa sebagai bagian dari puasa sunnah Senin dan Kamis. Adapun hari Jum’at, 9 Muharram, adalah hari disunahkan puasa Tasu’a. Sedangkan hari Sabtu, 10 Muharram, adalah hari disunahkan puasa ‘Asyura.

Sejarah puasa ‘Asyura

Hari ‘Asyura atau 10 Muharram adalah hari yang agung, pada hari tersebut Allah menyelamatkan nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam dan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Untuk mensyukuri nikmat yang agung tersebut, kaum Yahudi diperintahkan untuk melaksanakan shaum ‘Asyura.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: “Ada apa ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini.”

Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam bersabda, “Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian.” Maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa ‘Asura.”
(HR. Bukhari no. 2204 dan Muslim no. 1130)

Kaum musyrik Quraisy sendiri juga telah melaksanakan shaum ‘Asyura pada zaman jahiliyah. Mereka menganggap hari tersebut adalah hari yang agung sehingga mereka melakukan penggantian kain Ka’bah (kiswah) pada hari tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga telah melakukan puasa ‘Asyura sejak sebelum diangkat menjadi nabi sampai saat beliau berhijrah ke Madinah. Hal ini mengindikasikan, wallahu a’lam, puasa ‘Asyura diwarisi oleh kaum Quraisy dari ajaran nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الكَعْبَةُ، فَلَمَّا فَرَضَ الله رَمَضَانَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ»

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: “Mereka biasa melakukan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Pada hari tersebut Ka’bah diberi kain penutup (kiswah). Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Baarangsiapa ingin berpuasa ‘Asyura, silahkan ia berpuasa. Dan barangsiapa ingin tidak berpuasa ‘Asyura, silahkan ia tidak berpuasa.”
(HR. Bukhari no. 1592)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ»

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: “Kaum musyrik Quraisy mengerjakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) sejak zaman jahiliyah. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengerjakan puasa ‘Asyura. Ketika beliau tiba di Madinah, maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Kemudian ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa hari ‘Asyura. Maka barangsiapa ingin, ia boleh berpuasa ‘Asyura. Dan barangsiapa ingin, ia boleh tidak berpuasa.”
(HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125, dengan lafal Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pada waktu di Madinah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan shaum ‘Asyura.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ: أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: ” أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ “

Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan seseorang dari suku Aslam: “Umumkanlah kepada masyarakat bahwa barangsiapa tadi pagi telah makan, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa belum makan tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa. Karena hari ini adalah hari Asyura’.” (HR. Bukhari no. 2007 dan Muslim no. 1824)

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ: «مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ»، قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengirimkan seorang pemberi pengumuman pada pagi hari ‘Asyura ke kampung-kampung Anshar, untuk mengumumkan “Barangsiapa siapa tadi pagi telah makan, hendaklah ia menyempurnakannya sampai akhir hari ini (berpuasa) dan barangsiapa telah berpuasa sejak tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa.”

Sejak saat itu kami selalu berpuasa ‘Asyura dan kami jadikan anak-anak kecil kami berpuasa ‘Asyura. Kami membuatkan mainan boneka untuk mereka dari bulu domba. Jika salah seorang di antara mereka menangis karena lapar, maka kami berikan kepadanya mainana itu, begitulah sampai datangnya waktu berbuka.”
(HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Dengan turunnya kewajiban puasa Ramadhan, maka status hukum puasa ‘Asyura berubah dari wajib menjadi “sekedar” sunah.

Sejarah puasa Tasu’a

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ» قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam melakukan puasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura, maka para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.”

Maka beliau bersabda, “Jika begitu, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, insya Allah.”

Ternyata tahun berikutnya belum datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah wafat.”
(HR. Muslim no. 1134)

Keutamaan puasa Tasu’a dan ‘Asyura

Wujud syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari kejahatan orang-orang kafir, yaitu selamatnya Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam bersama Bani Israil dari kejahatan Fir’aun dan bala tentaranya. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.

Meneladani nabi Musa, Harun dan Muhammad ‘alaihimus shalatu was salam, yang berpuasa pada hari ‘Asyura. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.

Meneladani para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang melakukan puasa ‘Asyura, bahkan melatih anak-anak mereka untuk melakukan puasa ‘Asyura. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.

Menghapuskan dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya, selama kesyirikan dan dosa-dosa besar dijauhi.

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, maka beliau bersabda: “Ia dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu.”
(HR. Muslim no. 1162)

Akhlaq dan Ibadah Pasca Ramadhan

Akhlaq dan Ibadah Pasca Ramadhan

Hasil didikan Ramadhan adalah Pribadi Taqwa

Menilai keberhasilan ibadah Ramadhan tidak hanya diukur dari tamat – tidaknya berpuasa selama bulan Ramadhan. Juga bukan hanya dari banyaknya amaliah ibadah yang dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Ada tolok ukur yang lebih penting dari semua itu, yaitu: Apakah kita meneruskan semua amaliah bulan Ramadhan tersebut dibulan-bulan yang lain atau tidak? Apakah ada perubahan akhlak setelah mengikuti excellent training tersebut menjadi akhlak taqwa? Jadi berhasil atau tidaknya ibadah Ramadhan yang kita jalani sebulan penuh kemarin dapat dilihat dari kontinuitas amaliyah serta perubahan akhlak dalam bulan-bulan pasca Ramadhan.

Apabila kita meneruskan semua amaliah ibadah Ramadhan di luar bulan Ramadhan disertai perubahan akhlak menjadi akhlak orang taqwa, maka itulah yang termasuk berhasil dalam shaum Ramadhannya.

Berikut ini adalah sejumlah kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan ibadah Ramadhan. Semua kriteria ini sebenarnya merupakan amaliah ibadah Ramadhan yang sekaligus juga harus dilaksanakan di luar bulan Ramadhan, yaitu :

Meningkatkan kualitas ibadah, terutama shalat wajib dan shalat sunat Tahajud.

Selama Ramadhan, shalat kita laksanakan dengan sangat khusyu, bermutu dan tepat waktu. Kualitas inilah yang harus kita pertahankan pasca Ramadhan. Seperti halnya shalat sunnah utama Ramadhan yakni shalat Tarawih, maka shalat sunnah utama yang selalu dilaksanakan Rasulullah SAW adalah shalat Tahajud atau Qiyamul Lail. Kalaupun belum bisa tiap malam, maka laksanakanlah seminggu beberapa kali. Allah berjanji untuk meninggikan derajat orang yang terbiasa shalat malam. Selain itu tambah pula dengan shalat sunat yang lain, seperti shalat sunat rawatib, shalat dhuha, dsb.

Memperbanyak kajian Al Qur’an dan As Sunah.

kajian quran

Akhlaq dan ibadah pasca ramadhan oleh Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid M.Sc.

Selama bulan Ramadhan umat Islam terbiasa bertadarrus Al Qur’an, maka di luar bulan Ramadhan umat Islam harus pula membiasakan membaca Al Qur’an. Sempatkanlah tiap hari untuk membaca Al Qur’an sebanyak beberapa ayat. Akan lebih baik apabila dengan membaca arti dan tafsirnya, supaya pemahaman kita terhadap Al Qur’an akan lebih mendalam. Lebih baik lagi apabila ditambah dengan membaca hadits- hadits Rasulullah dan kitab- kitab atau buku- buku agama Islam lainnya, supaya kita lebih paham tentang agama Islam.

Meningkatkan kepedulian sosial dengan mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah.

Dalam suatu hadits dijelaskan : Ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling baik?” Maka Rasulullah menjawab, “Sedekah yang paling baik adalah sedekah di bulan Ramadhan”. Ramadhan juga melatih kita mempunyai empati dan simpati terhadap orang yang lapar dan serba kekurangan. Mari kita teruskan kepedulian, empati dan simpati kepada kaum duafa.

Meningkatkan pengendalian hawa nafsu antara lain dengan membiasakan shaum sunat.

Selama Ramadhan, nafsu kita kendalikan sepenuhnya dalam kendali akal sehat dan tuntunan agama. Jangan biarkan nafsu kembali merajalela. Kendalikanlah nafsu konsumsi, nafsu syahwat, nafsu aktualisasi, nafsu harta, nafsu kekuasaan dll seperti kita mampu mengendalikannya selama bulan Ramadhan.
Untuk itu ada baiknya didukung dengan shaum dengan shaum sunat di luar bulan Ramadhan, seperti shaum selama enam hari di bulan Syawwal, shaum setiap hari Senin dan Kamis, shaum selang sehari (seperti yang biasa dilakukan oleh Nabi Daud AS), dsb.

Menjauhkan diri dari perbuatan tercela, seperti berdusta, ingkar janji, khianat, iri dengki, bertengkar, menyakiti hati orang lain, dsb.

Shaum sejatinya adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan shaum secara lahiriyah dan batal secara batiniyah. Dalam hadits dijelaskan, bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila kamu sedang berpuasa, kemudian ada yang mengajak betengkar kepadamu, maka katakanlah olehmu, “Inni Shoimun” (sesungguhnya aku sedang berpuasa) .“ Hadits ini – sebenarnya- tentu saja tidak hanya berlaku di bulan Ramadhan, tapi di luar bulan Ramadhan-pun kita harus dapat menahan diri dari segala hal yang tercela.

Memperbanyak introspeksi dan permohonan ampun.

Memohon Ampun

Memohon Ampun

Di bulan Ramadhan Rasulullah sering memohon ampun, jauh melebihi taubat di luar bulan Ramadhan. Di luar bulan Ramadhan, setiap hari beliau memohon ampun sampai 70 kali, padahal Rasulullah sudah dijamin langsung masuk syurga. Teruskan kebiasaan ini, karena taubat adalah membersihkan diri dan jiwa kita seperti halnya mandi membersihkan fisik kita. Taubat terbaik menurut Al Qur’an dilaksanakan diwaktu dinihari.

Meningkatkan Ukhuwwah dengan saling memaafkan dan silaturrahmi.

Dalam bulan Ramadhan Ukhuwah Islamiyah terasa meningkat. Kita shalat berjamaah dan shalat di masjid baik untuk shalat wajib juga shalat sunnah taraweh. Kita sering buka bersama dengan keluarga bahkan dengan kerabat. Mari kita teruskan kebiasaan membangun silturrahmi dan memperkokoh ukhuwah Islamiyah di bulan-bulan pasca bulan Ramadhan.

Nara sumber: DR. Ir. H. D. Sodik Mudjahid, M.Sc.

[wpdm_file id=2] [wpdm_file id=3]

 

Khutbah Ied Shaum Ramadhan 1434H (bag. 2)

Shaum Ramadhan Membangun Insan dan Masyarakat Beradab

Oleh DR. Ir. H. D. Sodik Mudjahid, M.Sc.
Ketua Yayasan Darul Hikam Bandung
Sekjen Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Barat

Khutbah Idul Fitri 1434 H
di halaman Masjid At Taqwa KPAD Gegerkalong Bandung

 

ALLAAHU AKBAR WALILLAAHIL HAMDU

Hadirin rahimakumullah,

Dapat dibayangkan, betapa hancurnya suatu masyarakat, bila setiap manusia anggota masyarakat, mendasari semua keputusan dan tindakannya, hanya atas dasar pertimbangan nafsu semata.

Dapat dibayangkan, betapa hancurnya suatu masyarakat, jika semua individu bekerja seenaknya, tanpa mau tahu batas halal dan haram.

Dapat dibayangkan, betapa hancurnya suatu masyarakat, bila semua individu bekerja seenak perut sendiri, demi kepuasan dirinya sendiri, tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Jika ini terjadi, maka masyarakat yang akan terbentuk, adalah masyarakat hewaniyah, bukan masyarakat beradab, karena semua anggota masyarakat, bertindak atas dasar nafsu dan syahwat, bukan atas pertimbangan agama dan akal sehat.
Orang yang bekerja hanya atas dasar dorongan nafsu dan syahwat, hidupnya akan panas, stress, resah, iri, hasad, gelisah bahkan frustrasi. Jika semua anggota masyarakat berperilaku seperti ini, maka masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat stress dan frustrasi yang jauh dari ketenteraman, keamanan dan kebahagiaan.

Sebaliknya, bayangkanlah, masyarakat yang lain. Suatu masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang berakal sehat, yang dalam segala pengambilan keputusan dan tindakannya, berlandaskan kepada pertimbangan akal yang sehat dan agama.
Kehidupan masyarakat tersebut akan dinamis, akan tetapi rukun dan tenang. Semua orang berfikir dan bertindak dengan jernih. Semua orang berfikir dan bertindak dengan bijak. Semua orang berfikir dan bertindak, atas dasar akal sehat serta norma dan etika. Semua orang berfikir dan bertindak untuk kepentingan dan kemaslahatan umum.

Inilah masyarakat beradab, inilah masyarakat dewasa. Inilah masyarakat taqwa, Inilah masyarakat shaleh. Inilah masyarakat sukses dan bahagia.

Untuk itulah ibadah shaum ditujukan dan diarahkan. Untuk tujuan inilah ibadah shaum diwajibkan dan dilatihkan setiap tahun. Untuk membangun individu dan masyarakat taqwa. Individu dan masyarakat dewasa. Individu dan masyarakat shaleh. Individu dan masyarakat yang bertindak bukan atas nafsu dan syahwat semata, akan tetapi atas pertimbangan akal sehat dan agama.

Masyarakat yang dinamis tapi tetap harmonis. Masyarakat yang maju dan berkembang, tapi penuh rasa sayang dan suasana tenang. Masyarakat yang terus membangun, tapi dalam suasana rukun. Bahu membahu dalam kebajikan, bukan saling jegal sambil berbuat kemaksiatan.Tolong menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan, bukan sikut menyikut, bahkan dalam permusuhan dan kemungkaran.

Inilah masyarakat yang dijanjikan Allah, ”WALAU ANNA AHLUL QUROO AAMANU WAT TAQAU LAFATAHNAA ALAIHIM BAROKAATUN MINAS SAMAAI WAL ARDHI.” “Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka akan kami bukakan diatas mereka, pintu-pintu barokah dari langit.”

Hadirin rahimakumullah,

Rasulullah SAW bersabda : ”Ada 5 pilar masyarakat, yang jika pilar-pilar tersebut berada dalam posisi taqwa, maka masyarakat itu akan bahagia dan pintu-pintu barakah dari langit akan dibuka. Lima pilar itu adalah ilmu dan istiqamahnya para ulama, adilnya para pemimpin penguasa, jujurnya para pengusaha, disiplinnya para pekerja, serta sabarnya rakyat dan masyarakat”

Pilar masyarakat taqwa pertama, ilmu dan istqamahnya para ulama tidak akan terwujud, jika para ulama, sudah terseret oleh kehidupan yang dikendalikan oleh syahwat dan hawa hafsu. Ulama yang seharusnya sebagai benteng terakhir kebenaran, malah terperosok kedalam kemunkaran. Ulama yang seharusnya menjadi teladan dan panutan kebajikan, malah bergeser hanya menjadi sekedar tontonan, untuk hiburan dan popularitas, bahkan tidak jarang untuk penumpukan harta kekayaan. Semua itu terjadi, karena godaan syahwat dan hawa hafsu, yang tidak dikendalikan oleh akal dan agama.

Pilar masyarakat taqwa kedua, yaitu adilnya pemimpin dan pengusa tidak akan terwujud, jika para penguasa, dalam keputusan, kebijakan dan tindakannya hanya didasarkan atas syahwat dan nafsu semata. Ia hanya akan memperkaya kelompoknya sendiri. Ia hanya akan memberi fasilitas untuk partainya sendri. Keadilan dan kemakmuran bangsa tidak terwujud, karena semua kebijakan dan tindakannya hanya diberikan untuk kelompok dan keluarganya sendiri. Semua itu terjadi, karena kehidupan pemimpin dan pengusa, sudah dikuasai hawa nafsu, bukan oleh akal sehat dan tuntunan agama.

Pilar masyarakat taqwa ketiga, berupa jujurnya para pengusaha, juga tidak akan terwujud, jika kehidupan para pengusaha hanya dikendalikan oleh syahwat dan nafsu semata. Dalam menjalankan usahanya, dia sudah tidak lagi menggunakan etika dan akal sehat. Dalam berusaha tidak lagi memepertimbagkan halal dan haram. Dalam mencari keuntungan, sudah tidak lagi berjiwa jujur dan ksatria, dan hanya mementingkan keuntungan dan laba. Semua itu bisa terjadi, jika kehidupan penguasa, hanya atas dasar nafsu dan syahwat semata, bukan atas dasar akal sehat dan tuntunan agama.

Pilar masyarakat taqwa keempat, disiplinnnya para pekerja dan birokarat, juga tidak akan terwujud, jika jiwa mereka dikuasai oleh syahwat dan hawa nafsu semata. Yang ada dalam fikirannya adalah, bagaimana mencuri waktu dan kesempatan untuk kepentingan pribadi. Yang ada dalam fikirannya adalah, bagaimana mendapatkan penghasilan tambahan, dari tugasnya melayani publik. Yang ada dalam fikirannnya adalah, mensulitkan urusan rakyat, agar kemudian membuka ruang untuk suap dan kolusi. Yang jadi fikirannnya adalah mendapat layanan publik, bukan sebaliknya melakukan pelayanan publik. Semua itu terjadi, karena jiwanya dikuasai syahwat dan hawa nafsu semata,bukan bimbingan akal sehat dan tuntunan agama.

Pilar masyarakat taqwa kelima, sabarnya masyarakat dan rakyat juga tidak akan terwujud, jika jiwa rakyat dikuasai oleh syahwat dan nafsu semata. Rakyat menjadi sangat sensitif, banyak menuntut, banyak protes dan demo, merasa paling benar, merasa paling berhak, menjadi tirani rakyat, tanpa merasa punya kewajiban sebagai sisi lain dari sebuah hak.

Hadirin yang berbahagia,

Demikianlah situasi yang akan terjadi terhadap pilar-pilar masyarakat jika hanya dilandasi nafsu dan syahwat, tanpa bimbingan akal sehat dan tuntunan agama. Semua pilar akan keropos dan hancur dan tidak berfungsi, yang berarti masyarakat secara keseluruhan akan hancur yang artinya menjauhkan dari terbukanya pintu-pintu barokah dari langit dan bumi seperti yang dijanjikan Allah yang tidak pernah ingkar janji.

Dalam konteks inilah, sekali lagi kita harus bersyukur, bahwa Allah SWT telah mendisain program diklat tahunan Ramadlan, yang intinya adalah diklat pengendalian diri, agar seluruh lapisan masyarakat, terutama pilar-pilar masyarakat taqwa, berada dalam kondisi yang benar yakni dalam bimbingan akal sehat dan agama, bukan atas dasar nafsu syahwat semata.

ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMDU

Shaum Ramadlan dirancang untuk membangun taqwa. Inti ketaqwaan dan keshalehan adalah kemampuan mengendalikan diri dari nafsu yang merejalela tanpa kendali.

Manusia dan masyarakat taqwa adalah MANUSIA dan masyarakat BERADAB, yaitu manusia dan masyarakat yang dalam melakukan segala keputusan dan tindakannya, tidak atas dasar nafsu dan syahwat semata, akan tetapi atas pertimbangan akal sehat dan tuntunan agama.

Shaum ramadlan yang telah kita lakukan, akan menjadi kemubaziran dan kesia-siaan, jika tidak menghasilkan manusia beradab, yakni manusia yang dalam tindakan dan keputusannnya, tidak hanya atas dasar nafsu dan syahwat, melainkan atas dasar akal sehat dan tuntunan agama.

Dengan selesainya Shaum Ramadlan, maka jika kita seorang ulama, maka marilah menjadi ulama yag beradab, yakni ulama yang istiqamah dan mampu memberikan teladan bagi ummat.

Dengan telah selesainya Shaum Ramadlan, bila kita menjadi pemimpin dan penguasa, maka marilah kita menjadi pemimpin dan penguasa yang beradab, yakni pemimpin yang adil dalam memperlakukan semua kelompok dan golongan masyarakat.
Setelah Shaum Ramadlan, maka jika kita menjadi pengusaha, marilah menjadi pengusaha yang beradab, yakni pengusaha yang jujur, yang memegang prinsip halal dan haram dalam mencari keuntungan.

Setelah Shaum Ramadlan, jika kita menjadi pekerja atau birokrasi, marilah kita menjadi pekerja atau birokrasi yang beradab, yakni pekerja yang disiplin, patuh hukum serta memberikan pelayanan kepada rakyat, bukan sebaliknya minta dilayani oleh rakyat.

Setelah Shaum Ramadlan, jika kita menjadi rakyat, marilah menjadi rakyat yang beradab, yakni rakyat yang tabah dan sabar, bukan rakyat yang pemarah dan berangasan dalam menilai setiap keadaan.

Setelah Shaum Ramadlan, marilah kita menjadi masyarakat yang lebih taqwa, yakni masyarakat beradab, masyarakat yang cerdas, masyarakat yang bijak, masyarakat yang jujur, masyarakat saling memberi, masyarakat yang saling menghargai, masyarakat yang saling peduli dan saling memperhatikan, masyarakat sabar, tangguh, produktif dan bukan masyarakat yang konsumtif.

Hadirin rahimakumullah,

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia,

Di hari yang suci ini, dalam kondisi jiwa yang suci ini marilah kita akhiri sidang ini dengan memanjatkan do’a ke hadirat Allah SWT.

Ya Allah, berilah kami kekuatan dan kemampuan, untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan kepada kedua orangtua kami. Berilah kami petunjuk dan kekuatan, agar dengan nikmat tersebut, kami dapat melaksanakan amal shaleh yang Engkau ridhai,

Ya Allah Yang Maha Kuasa dan Perkasa,

Bantulah kami ya Allah, agar kami dapat memelihara iman dan taqwa kami, agar kami dapat selalu memelihara diri kami, dari segala amal dan perbuatan yang tidak engkau ridhai.

Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang,

Bantulah kami, agar kami senantiasa mampu mengendalikan nafsu yang ada dalam jiwa kami menjadi nafsu yang muthmainnah. Agar kami dapat hidup lebih beradab dan mulia, sehingga kami dapat hidup dengan tenang, tentram dan bahagia.

Ya Allah berilah petunjuk dan kekuatan kepada pilar-pilar masyarakat dan bangsa indonesia, agar setelah menjalani Shaum Ramadlan ini, mereka lebih istiqomah di jalanmu, lebih adil dan bijak dalam bertindak, lebih amanah dalam mengemban tugas, lebih disiplin dan sabar menghadapi segala macam tantangan bagsa ini.

Ya Allah, jadikanlah istri dan anak keturunan kami orang-orang yang shaleh, jaga dan lindungi mereka ya Allah dari segala kejahatan dan kemaksiatan yang melingkarinya, agar mereka tetap menjadi sahabat kami, menjadi andalan kami, bukan sebaliknya menjadi lawan dan musuh yang akan menyusahkan kami,

Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa ibu bapak kami, sayangilah ibu dan bapak kami, seperti mereka menyayangi kami saat kami masih kecil,

Untuk orang tua yang masih ada di dunia, berilah kemuliaan dan kebahagiaan diujung hayatnya, untuk orang tua yang sudah tiada, berilah mereka nikmat kubur.

Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

khutbah bag. 1

 

Khutbah Ied Shaum Ramadhan 1434H (bag. 1)

Shaum Ramadhan Membangun Insan dan Masyarakat Beradab

Oleh DR. Ir. H. D. Sodik Mudjahid, M.Sc.
Ketua Yayasan Darul Hikam Bandung
Sekjen Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Barat

Khutbah Idul Fitri 1434 H
di halaman Masjid At Taqwa KPAD Gegerkalong Bandung

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Asyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah
Allahumma shalli wasallim wa barik ‘alaa sayyidina muhamadin wa ‘alaa alihi wa ash haabihi ajma’iiiin
Fa yaa ibadallahi, ittaqullahi haqqa tuqaatihi wa laa tamutunna illa wa antum muslimuuun

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah,

Setiap kita melaksanakan shalat Idul Fitri, perasaan kita selalu bercampurbaur antara perasaan haru dan perasaan sukacita.
Sukacita karena kita berhasil melaksanakan perintah Allah SWT, melaksanakan seluruh rangkaian ibadah shaum, sebagai wahana menuju pribadi taqwa. Pada saat yang sama, di dalam qalbu kita, juga terpendam sejumlah keharuan, mengenang aneka ragam kenikmatan dan masa-masa indah selama bulan ramadhan.

Kenikmatan dan kenangan indah saat berbuka puasa bersama anak dan istri; kenikmatan dan kenangan indah saat melaksanakan makan sahur bersama seluruh keluarga; kenikmatan dan kenangan indah ketika melaksanakan shalat tarawih bersama sahabat dan tetangga; kenikmatan dan kenangan indah melaksanakan i’tikaf 10 hari terakhir bersama anak dan istri. Semua itu merupakan pengalaman batin yang sangat dalam dan indah, yang tidak dapat ditemukan di luar bulan ramadhan.

Kenangan itu sering menjadi perasaan yang lebih dalam dan haru, apabila kita melihat jauh kebelakang, masa ketika kita masih kanak-kanak, masa ketika shaum, buka puasa, makan sahur dan shalat tarawih dibawah bimbingan orang tua kita yang penuh kasih sayang.

Pada ibadah shaum tahun ini, sebagian dari mereka ada yang sudah dipanggil menghadap Allah SWT. Sementara ada pula orang tua kita yang masih diberi panjang umur, dapat melaksanakan shalat id bersama kita.

Untuk orang tua yang diberi umur panjang dan masih berada di tengah kita, kita do’akan, semoga diberi kebahagiaan dan barokah di ujung kehidupannya, serta diberi husnul khotimah, dipanggil dengan cara yang mudah ketika tengah beriman dan beribadah kepada Allah SWT.

Untuk orangtua kita yang sudah berada di alam kubur, kita berdo’a semoga Allah SWT memberinya nikmat kubur dan menjauhkan dari adzab kubur. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah,

Kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah mensyariatkan ibadah shaum berserta segala macam peribadatan selama bulan ramadhan. Dengan ibadah shaum tersebut, kita dididik dan dilatih untuk mengendalikan diri, untuk mengendalikan hawa nafsu. Siang hari yang panas, ketika kerongkongan sedang haus, nafsu ingin minum, dilatih untuk tidak minum air walau hanya setetes. Ketika perut merasa lapar, nafsu ingin makan, dilatih untuk tidak makan. Ketika sedang tidur, nafsu masih ingin tidur, dilatih bangun dinihari untuk makan sahur. Ketika perut masih kenyang dan cape, nafsu ingin istirahat, dilatih untuk shalat Isya dilanjut shalat tarawih.

Selama satu bulan penuh, secara intensif dan sistematis, nafsu kita dilatih untuk lebih tunduk kepada perintah agama, untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab hanya dengan nafsu yang terkendali oleh akal sehat dan agama, manusia bisa selamat, nikmat dan bahagia. Sebaliknya, dengan nafsu yang tidak terkendali, nafsu hewani, manusia banyak yang celaka dan sengsara.

Lihatlah, betapa banyak para pemuda harapan bangsa, terpaksa mati dalam usia muda, karena kecanduan dan keracunan narkoba, akibat hawa nafsu, nafsu yang tidak terkendali oleh akal sehat dan agama.

Lihatlah banyak para gadis harapan orang tua, yang dinikahkan secara paksa, karena hamil sebelum masa pernikahan tiba, akibat hawa nafsu, nafsu yang tidak terkendali oleh akal sehat dan agama.

Lihatlah betapa banyak para pejabat, yang dipaksa turun dari jabatannya, lalu diperiksa KPK dan mendekam di penjara, karena dia memakan uang rakyat dan uang negara, akibat nafsu, nafsu yang tidak dikendalikan oleh akal sehat dan agama.

Lihatlah betapa banyak pengusaha, yang sudah terkenal dan kaya raya, terbalik menjadi bangkrut dan kembali sengsara, karena sangat ambisi harta dan ingin super kaya raya, akibat nafsu, nafsu yang tidak dikendalikan oleh akal sehat dan agama.

Lihatlah betapa banyak keluarga yang hancur berantakan, karena suami istri yang selingkuh dan berzina, akibat nafsu, nafsu yang tidak dikendalikan oleh akal sehat dan agama.

Lihatlah betapa banyak ibu dan bapak yang menjadi menderita, karena anaknya masuk penjara, akibat nafsu, nafsu yang tidak dikendalikan oleh akal sehat dan agama.

Demikianlah, nafsu yang tidak dikendalikan oleh akal sehat dan agama, menyebabkan manusia hancur dan sengsara, menyebabkan kerusakan diri, kerusakan keluarga dan akhirnya kerusakan bangsa dan negara.

Untuk itulah, Nabi Yusuf AS, sebagai simbol orang yang teraniaya oleh nafsu ankara murka orang-orang disekitarnya, pernah berkata:
WA MAA UBARRIUNN NAFSI, INNAN NAFSA LAAM MAAROTUN BISSUI, ILLA MAA ROHIMA ROBBII
”Aku tidak pernah akan membiarkan nafsu-ku hidup merajalela, karena nafsu seperti itu, akan membawa manusia kepada kehancuran. Kecuali nafsu yang disayangi oleh Tuhannya.”

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah,

Selama bulan ramadhan, nafsu telah kita tempatkan secara proporsional. Dia tidak menjadi penglima tertinggi dalam jiwa dan kehidupan kita. Dia tidak menjadi diktator dari aktifitas manusia, akan tetapi, nafsu berjalan di bawah kendali akal sehat dan agama.

Semua keputusan, semua tindakan, tidak didasarkan atas ambisi dan nafsu semata, akan tetapi atas pertimbangan akal sehat dan tuntunan agama.
Bila dia menginginkan makan dan minum, maka dia akan mencari, dan melakukannnya, tapi bukan atas pertimbangan nafsu haus dan nafsu lapar saja, akan tetapi atas pertimbangan akal sehat dan agama.

Bila dia menginginkan jabatan dan kedudukan, maka dia akan mencarinya, tapi bukan atas pertimbangan nafsu dan ambisi saja, akan tetapi atas pertimbangan akal sehat dan tuntunan agama.

Bila menginginkan kekayaan, maka dia akan mencarinya, tapi bukan atas dorongan nafsu serakah dan tamak, akan tetapi atas pertimbangan akal sehat dan tuntunan agama.

Bila dia menginginkan kenikmatan seksual, maka dia mencari dan melakukannya, tapi bukan atas dasar nafsu syahwat semata, melainkan atas pertimbangan akal sehat dan tuntunan agama.

Itulah ciri manusia sejati, manusia shaleh dan manusia taqwa, yang akan dianugerahi Allah, dengan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Itulah harkat dan derajat manusia beradab, bukan manusia hewaniyah, yang mendasarkan semua keputusannya atas dasar pertimbangan nafsu dan syahwat semata.

Inilah hasil terbesar dari didikan ibadah shaum, yang harus kita bawa dalam kehidupan pasca shaum, yakni menjadi manusia beradab, yang semua keputusan dan tindakannya, didasarkan pertimbangan akal sehat dan tuntunan agama. Bukan menjadi manusia hewaniyah atau syetaniyah, yang mendasari keputusannya atas pertimbangan nafsu dan syahwat semata.

khutbah bag. 2

adidas eqt support adv primeknit zebra release date adidas eqt support adv primeknit zebra new images adidas eqt support adv primeknit zebra release date adidas eqt support adv primeknit zebra adidas eqt support adv zebra coming soon adidas eqt support adv primeknit zebra ba7496 adidas eqt support adv core black adidas eqt support adv grey core black adidas eqt support adv core blackturbo red dropped today adidas eqt support adv core black adidas eqt support adv camo pack adidas eqt support adv camo pack adidas eqt support adv camo pack adidas eqt support adv green camo adidas eqt support adv camo pack first look adidas eqt support adv shadow available now adidas eqt support adv shadow adidas eqt support adv shadow adidas eqt support adv shadow adidas eqt support adv primeknit black white